Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat mayoritas warganya masih minim aktivitas fisik. Berdasarkan hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2025 hingga awal 2026, sebanyak 93 persen warga Jakarta tergolong kurang bergerak atau menjalani gaya hidup sedentari.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan temuan tersebut berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular, terutama penyakit kardiovaskular.
“Dari hasil pemeriksaan, temuan terbanyak berasal dari kelompok risiko penyakit kardiovaskular, terutama obesitas sentral dan kurangnya aktivitas fisik (93 persen),” ujar Ani, dikutip dari Antara, Rabu (18/2/2026).
Menurut Ani, obesitas sentral dan kurang gerak menjadi faktor dominan yang memperbesar potensi penyakit jantung dan pembuluh darah pada masyarakat perkotaan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di ibu kota. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa gaya hidup sedentari merupakan persoalan nasional.
“Kami punya datanya bukan cuma di Jakarta, tapi juga seluruh Indonesia dan itu adalah kenyataan bahwa orang Indonesia itu memang kurang gerak. Walaupun kita nggak obesitas, tapi kenyataannya kita kurang gerak,” kata Nadia di Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).
Nadia membandingkan kebiasaan masyarakat Indonesia dengan negara tetangga, Singapura, yang menurutnya memiliki budaya berjalan kaki lebih tinggi.
“Nggak usah jauh-jauh, ke Singapura. Mereka naik apa? Jalan kakinya berapa banyak? Padahal sama panasnya kayak Indonesia, sama keringetan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang cenderung menghindari aktivitas fisik ringan dalam keseharian. Sebagai contoh, ia melihat antrean warga yang lebih memilih lift untuk menuju moda transportasi LRT dibandingkan menggunakan tangga.
“Nih, di depan Kemenkes nih paling gampang. Kalau jam 3 begini, yang antre di mana? Yang antre di lift mau naik LRT. Padahal sudah dibangun LRT depan Kemenkes supaya naik tangga,” kata Nadia.
Menurutnya, perubahan perilaku sederhana seperti memilih tangga dibanding lift dapat memberikan dampak signifikan bagi kesehatan jantung dalam jangka panjang.
“Padahal gini ya, kalau di luar negeri kalau orang males naik tangga, dia naik eskalator tapi sambil jalan. Jadi itu memang PR kita,” tutupnya.
Data Dinas Kesehatan DKI menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu kontributor utama risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2. Para pejabat kesehatan menekankan pentingnya membangun kebiasaan bergerak minimal 30 menit per hari, baik melalui olahraga terstruktur maupun aktivitas harian seperti berjalan kaki dan naik tangga.
Sumber: Antara; pernyataan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta; Kementerian Kesehatan RI.