Opor Ayam Kuning Betawi H. Sa’adih: Warung Sederhana di Cilandak yang Sudah Melegenda Sejak 1970-an

Di tengah ramainya kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, ada sebuah warung makan sederhana yang sudah bertahan puluhan tahun dengan satu menu andalan saja. Namanya Opor Ayam Kuning Betawi H. Sa’adih, sebuah tempat makan legendaris yang dikenal dengan opor ayam khas Betawi tanpa santan.

Meski tampilannya sangat sederhana, warung ini justru menjadi tujuan banyak pencinta kuliner tradisional. Berlokasi di Jl. Puri Mutiara II No.49, Cilandak, tempat makan ini lebih terlihat seperti halaman rumah biasa. Hanya sebuah spanduk sederhana bertuliskan “Opor Ayam Kuning Betawi H. Sa’adih” yang menandai keberadaannya.

Di dalamnya pun tidak banyak meja—hanya sekitar lima meja saja. Saat jam makan siang tiba, pengunjung sering kali harus antre atau berbagi meja dengan pelanggan lain. Namun, semua itu terasa sepadan dengan seporsi opor ayam yang sudah terkenal kelezatannya.

Resep Legendaris Khas Betawi

Warung makan ini pertama kali dirintis oleh H. Sa’adih, seorang peracik kuliner asli Betawi yang mulai berjualan sejak tahun 1970-an di kawasan dekat flyover Antasari. Seiring waktu, warung tersebut pindah ke lokasi yang sekarang di Cilandak.

Kini, usaha kuliner ini diteruskan oleh generasi berikutnya. Meski sudah berganti pengelola, resep opor ayamnya tetap dipertahankan seperti racikan awal sang pendiri.

Menurut pengelola yang merupakan cucu dari H. Sa’adih, resep tersebut memang diwariskan secara turun-temurun.

“Opor ayam ini memang racikan dari Pak H. Sa’adih yang merupakan orang asli Betawi, karena itu kami tetap mempertahankan cita rasa khas Betawi dari resep aslinya,” ujar pihak pengelola warung.

Setiap harinya, warung ini bahkan bisa menghabiskan lebih dari 40 ekor ayam untuk melayani pelanggan yang datang.

Opor Ayam Tanpa Santan yang Unik

Hal yang membuat opor ayam di sini berbeda adalah cara memasaknya. Berbeda dengan opor pada umumnya yang menggunakan santan, Opor Ayam Kuning Betawi H. Sa’adih justru tidak menggunakan santan sama sekali.

Sebagai gantinya, rasa gurih dihasilkan dari kacang sangrai dan kelapa parut goreng yang kemudian dihaluskan bersama bumbu rempah. Hasilnya adalah kuah opor berwarna kuning yang lebih bening, menyerupai sup, namun tetap kaya rasa.

Ayam yang digunakan juga bukan ayam kampung, melainkan ayam petelur. Meski ukurannya relatif kecil, ayam tersebut dimasak selama berjam-jam hingga teksturnya menjadi sangat empuk.

Ketika disajikan, aroma gurih dari serundeng dan rempah langsung tercium. Seporsi opor biasanya hadir dengan nasi putih hangat, kerupuk, dan sambal khas yang membuat rasanya semakin lengkap.

Sambal Goang Sederhana yang Bikin Nagih

Selain opornya, sambal pendamping di warung ini juga punya karakter unik. Sambalnya dibuat dari cabai rawit hijau, bawang, dan sedikit air, lalu diulek kasar.

Rasanya pedas segar dan ringan, mirip dengan sambal goang, namun dalam versi yang lebih sederhana. Kombinasi sambal ini dengan kuah opor yang gurih membuat hidangan terasa semakin nikmat.

Harga Bersahabat untuk Kuliner Legendaris

Meski sudah terkenal dan memiliki sejarah panjang, harga makanan di sini tetap ramah di kantong. Seporsi opor ayam dibanderol sekitar Rp22.000 hingga Rp30.000, tergantung potongan ayam yang dipilih, seperti paha atas, dada, sayap, atau paha bawah.

Harga tersebut sudah termasuk nasi putih dan sambal, menjadikannya salah satu pilihan kuliner tradisional yang lezat sekaligus terjangkau di Jakarta Selatan.

Bagi pecinta kuliner Nusantara, khususnya masakan Betawi, warung ini jelas layak masuk daftar kunjungan. Namun ada satu tips penting: datanglah sebelum pukul 13.00, karena opor ayam legendaris ini sering kali sudah habis sebelum sore tiba.

Informasi Singkat

  • Nama: Opor Ayam Kuning Betawi H. Sa’adih
  • Alamat: Jl. Puri Mutiara II No.49, Cilandak, Jakarta Selatan
  • Jam buka: 10.00 – 16.00
  • Harga: Rp22.000 – Rp30.000 per porsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *